Morning..
Semalem abis nonton Susah Sinyal-nya Ernest. Nina yang mau nonton film itu karena tadinya gw ogah.Tapiii..demi quality time bersama si anak gadis yg sedang liburan, OK lah gw setuju. Lagian jarang-jarang juga sekarang gw sm Nina nonton berdua. Dan ternyata film-nya bagus, ringan,menghibur, bermakna plus disuguhi indahnya pemandangan Sumba. And it's about relationship between mom and her teen daughter, cocok lah ya buat gw sm Nina.
Gw akui how hard the relationship is. Remaja yang udah sudah diatur-atur,yang lebih dekat sama temannya,yang maunya main HP melulu,yang lebih bahagia kalo sama neneknya..
Bagian terakhir nampar gw banget sih. Pertama, karena gw merasa seperti Ellen yang bercerai, kemudian harus kerja cari duit dan menitipkan Akira ke neneknya. Meskipun cerita film ya beda jauh sama kenyataan, Nina gak deket juga sama Ibu-panggilan ke ibu gw. Gak seperti Oma dan Kiara.
Hubungan ibu-anak perempuan ini yang bikin gw merenung. Gw sama Ibu juga gak deket, ada jarak, 'susah sinyal'. Ibu terlalu mendominasi hidup gw. Dengan caranya yang kadang otoriter dan kasar dia mencoba membentuk gw. Sampai-sampai dulu gw takut cerita-cerita dan curhat sama Ibu, karena dia selalu marah pada akhirnya :(. Ibu begitu karena dia gak bahagia dengan Bapak. Remember, Ibunya dulu bahagia maka anak juga akan bahagia. Dan itu yang gak terjadi sama gw dulu.
Sampai sekarang. Better sih sekarang, gw bisa ngobrol sama Ibu karena gw udah tua juga dan berusaha menerima keadaan Ibu seperti itu. Itupun satu-satunya obrolan panjang Ibu dan gw adalah cerita lama yang dia ulang-ulang selama lebih dari 20 tahun hidup gw saat sudah mengerti mengapa Ibu menjadi seperti ini karena dia gak bahagia dengan Bapak, adalah betapa kecewa dan marahnya dia dengan Bapak dan keluarganya. Dan gw selalu diam hanya mendengarkan. Ibu? bisa bercucuran air mata menceritakannya meskipun itu cerita lama yang dia ulang ulang ulang ulang ulang...terus.
Gw satu-satunya anak perempuan Ibu, tapi gw gak pernah merasakan kelembutan Ibu. Ibu gak pernah SMS, telepon, sekedar menanyakan kabar gw atau mendo'akan. Ibu gak pernah memeluk gw, gak pernah menenangkan hati gw, gak pernah membiarkan gw seperti apa adanya. Mungkin sekarang pada akhirnya, but I still found it's a hard relationship between me and Ibu.
Gw selalu berusaha selalu ada buat Nina dan jadi tempat dia curhat, tetep aja gw masih merasa Nina jaga jarak sama gw. Kadang gw juga terlalu galak sama dia. Tujuan gw sih berusaha bikin dia hidup teratur dan rajin, hormat sm orang tua, tapi gw suka lupa bahwa Nina adalah pribadi berbeda dengan gw dan dia juga punya ritme hidupnya sendiri sekarang. Itu yang kadang bikin gw berasa 'susah sinyal' sama dia dan akhirnya bikin gw frustasi dan ujung-ujungnya gw marah.
Panjang kan ngomongin 'susah sinyal'?
Well, mungkin versi saya gak sama dengan versi kalian.
What's your version ?
#jammakansiang
Kelapa Gading 13 April 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar