Sabtu, 16 Oktober 2021

..out of the blue.

Selamat pagi.

Abis kabur sebentar ke Jogja sm Ope malah jd sakit. Badan panas..tulang sakit semua..batuk..lemes. Pasti ini bukan gara2 kecapean nanjak Watu Lawang atau hutan pinus Dlingo atau jalan kaki menyusuri Kotagede. Tapi karena saya udah gak kuat sama kerjaan.

Ia..saya merasa susah sangat lelah dengan kerjaan yang seabrek. Bukan seabreknya..tapi tekanannya karena boss2 Mesir itu mau semua cepat dan gak pake salah sementara ribuan data yang kita kerjain. Ditambah supervisor saya mau cuti melahirkan dan semuanya dilimpahkan ke saya yang baru 3 bulan bekerja. Dan badan saya memberi sinyal kalo saya harus berhenti sejenak.

Stress. Capek. Bosan. Kangen Nina.

Ialah..jauh dari Nina gara-gara 'terpaksa' harus bekerja di Jakarta dengan gaji yang gak seberapa bikin saya stress. Apalagi Ope sering banget ke luar kota berhari-hari atau kalopun lagi di rumah selalu pulang dini hari, gak ada kesempatan saya buat berkeluh kesah, bermanja-manja. Sekamar tapi gak pernah ketemu..kecuali Sabtu atau Minggu. Itupun kalo dia gak.lagi ke luar kota dan saya lagi gak pulang ke Cirebon nengok Nina.

Do you think my life easy?

Well, inilah resiko yang harus saya hadapi. Ingat motivasi apa yang ada di hati saya saat ingin bekerja kembali..dan pasti ini sudah takdir Allah..kenapa saya ada di sini, kenapa saya melakukan pekerjaan ini.

Meskipun sejujurnya saya cuma ingin di rumah, punya olshop, bikin pesanan masakan or siomay lagi, bisa menemani Nina, mengurus rumah, menunggu Ope pulang..atau mungkin mengurus bayi lagi.. Ya Allah.

OK lah..jangan membicarakan hal-hal yang belum terjadi..mari hadapi kenyataan dan cari solusi.

Saya berusaha untuk tidak sakit. Supaya daya bisa melakukan banyak hal dan menaklukan tuntutan-tuntutan itu.

Bismillah.

~ydp

Kamis, 12 April 2018

..cerita nge-hitch.

Jakarta siang ini.

Lucu ya hidup di era modern seperti sekarang.
Saat di mana semua jadi lebih mudah, cepat, gak ribet gara-gara perkembangan teknologi yang udah merasuki semua sisi kehidupan.

Termasuk untuk menghemat uang transport.

Ia belakangan Saya pergi dan pulang kantor dengan cara nge-hitch. Selain lebih cepat,juga lebih irit dan bebas dari himpitan2 seperti naik kereta dl. Oh no way, i won't throw my energy in commuter line again.

Awalnya agak takut, karena saya harus berboncengan dengan seseorang asing yang gak saya kenal. Kalo cewek OK lah, lha kalo cowok?

But i try to enjoy it since it can save my time and energy. Padahal kalo diitung2 ya sama aja ongkosnya dengan naik kereta. Tapi minimal gak harus transit2 lah.

Beberapa hari berboncengan dengan orang yang sama ya pastilah akhirnya ada kisah2 ajaib. Mulai saya yang dibilang masih umur 30an (asik!), yang digoda2, yang lempeng dan yang ahirnya jadi kaya temen lama. Alhamdulillah finally saya bertemu dengan orang2 baik. Gak usil bin centil seperti sebelumnya yang akhirnya saya block.

Setiap pagi saya nge-hitch sama Novian. Pemuda pecinta alam yg bekerja di sebuah ekspedisi. Anaknya sopan, panggil saya ibu. Di perjalanan kadang diselingi cerita ttg gunung, alam, tanam hutan bakau sampai kopi.

Setiap pulang kerja saya nge-hitch sama Dani. Si pengantin baru yang wajahnya selalu tertutup masker. Kayaknya kalo saya ketemu dia di jalan someday, saya gak bakal ngenalin dia. Saya cuma ngenalin dia dari motor Scoopy-nya, wajah berkacamata tertutup masker, dan tas plastik di dpn motornya. Itu bekal makan siangnya yang dibawakan sang istri. Dan Dani cukup relijius, selalu berhenti di Masjid di daerah Klender Baru utk sholat Maghrib. Dan akhirnya saya kebawa juga utk sholat tepat waktu, gak dijamak melulu. Setiap ketemu dia selalu tanya jam berapa saya sampai kantor tadi pagi, atau sampai rumah. Bahkan kalo saya sehari bolos nge-hitch sama dia, selalu ditanya kemarin pulang sama siapa. Kepo.

Tapi mereka orang2 yang bisa saya percaya utk mengantar saya pergi dan pulang kantor. Percaya kan kalo energi baik itu menular?
Semoga orang2 baik ini juga mendapatkan yang baik2 dalam kehidupannya kelak..aamiin.

#ydp




Sabtu, 30 Desember 2017

Susah Sinyal

Morning..

Semalem abis nonton Susah Sinyal-nya Ernest. Nina yang mau nonton film itu karena tadinya gw ogah.Tapiii..demi quality time bersama si anak gadis yg sedang liburan, OK lah gw setuju. Lagian jarang-jarang juga sekarang gw sm Nina nonton berdua. Dan ternyata film-nya bagus, ringan,menghibur, bermakna plus disuguhi indahnya pemandangan Sumba. And it's about relationship between mom and her teen daughter, cocok lah ya buat gw sm Nina.

Gw akui how hard the relationship is. Remaja yang udah sudah diatur-atur,yang lebih dekat sama temannya,yang maunya main HP melulu,yang lebih bahagia kalo sama neneknya..

Bagian terakhir nampar gw banget sih. Pertama, karena gw merasa seperti Ellen yang bercerai, kemudian harus kerja cari duit dan menitipkan Akira ke neneknya. Meskipun cerita film ya beda jauh sama kenyataan, Nina gak deket juga sama Ibu-panggilan ke ibu gw. Gak seperti Oma dan Kiara.

Hubungan ibu-anak perempuan ini yang bikin gw merenung. Gw sama Ibu juga gak deket, ada jarak, 'susah sinyal'. Ibu terlalu mendominasi hidup gw. Dengan caranya yang kadang otoriter dan kasar dia mencoba membentuk gw. Sampai-sampai dulu gw takut cerita-cerita dan curhat sama Ibu, karena dia selalu marah pada akhirnya :(. Ibu begitu karena dia gak bahagia dengan Bapak. Remember, Ibunya dulu bahagia maka anak juga akan bahagia. Dan itu yang gak terjadi sama gw dulu.

Sampai sekarang. Better sih sekarang, gw bisa ngobrol sama Ibu karena gw udah tua juga dan berusaha menerima keadaan Ibu seperti itu. Itupun satu-satunya obrolan panjang Ibu dan gw adalah cerita lama yang dia ulang-ulang selama lebih dari 20 tahun hidup gw saat sudah mengerti mengapa Ibu menjadi seperti ini karena dia gak bahagia dengan Bapak, adalah betapa kecewa dan marahnya dia dengan Bapak dan keluarganya. Dan gw selalu diam hanya mendengarkan. Ibu? bisa bercucuran air mata menceritakannya meskipun itu cerita lama yang dia ulang ulang ulang ulang ulang...terus.

Gw satu-satunya anak perempuan Ibu, tapi gw gak pernah merasakan kelembutan Ibu. Ibu gak pernah SMS, telepon, sekedar menanyakan kabar gw atau mendo'akan. Ibu gak pernah memeluk gw, gak pernah menenangkan hati gw, gak pernah membiarkan gw seperti apa adanya. Mungkin sekarang pada akhirnya, but I still found it's a hard relationship between me and Ibu.

Gw selalu berusaha selalu ada buat Nina dan jadi tempat dia curhat, tetep aja gw masih merasa Nina jaga jarak sama gw. Kadang gw juga terlalu galak sama dia. Tujuan gw sih berusaha bikin dia hidup teratur dan rajin, hormat sm orang tua, tapi gw suka lupa bahwa Nina adalah pribadi berbeda dengan gw dan dia juga punya ritme hidupnya sendiri sekarang. Itu yang kadang bikin gw berasa 'susah sinyal' sama dia dan akhirnya bikin gw frustasi dan ujung-ujungnya gw marah.

Panjang kan ngomongin 'susah sinyal'?
Well, mungkin versi saya gak sama dengan versi kalian.
What's your version ?

#jammakansiang
Kelapa Gading 13 April 2018

Rabu, 25 Oktober 2017

..do the tango.

#jakartasaatterik

belakangan saya kok kepingin hamil lagi.
suka sedih liat cewe hamil..kayanya mereka bahagiaa banget..makin disayang suami, diperhatiin, dimanja.
apalagi liat ibu2 yang baru punya baby..aduuh senangnyaa..
saya pengen punya anak banyak.

tapii apalah daya.
mungkin itu hanya sebatas angan-angan..:((
it's so sad to realize that we didn't make a big effort to make it..
selalu habis waktu untuk kami berdua.
habis energi, habis gairah pula.

tapi saya selalu mencoba melihat dari sisi positif.
mungkin ini yang Allah mau untuk saya.
banyak 'kalo nanti..terus gimana' yang berseliweran di kepala.
atau mungkin sebenarnya hal ini cuma saya yang kepengen, dia gak.
so how we do the tango when you're alone on the dance floor??

sementara mimpi lagi deh..






Rabu, 18 Oktober 2017

..demi.

Jakarta, day 58.
18 Okt 2017.

Berjibaku dengan macet dan jarak yang jauh antara rumah dengan kantor kali ini lumayan butuh perjuangan.
Rasanya beda dengan 3 tahun lalu.
Sekarang lebih capek, lebih desperate, lebih moody.
Faktor U ya? mungkin saja.
Tapi bedanya kembali ke Jakarta kali ini saya punya motivasi yang jauh lebih kuat dibanding 3 tahun lalu.
Dan motivasi itulah yang bisa membawa saya sampai ke detik ini.
Alhamdulillah.

Dan saat saya bersyukur, Allah Maha Baik pun menambah kenikmatan buat saya.
Belum 2 bulan gaji saya udah naik 2x :)) 
Sungguh nikmat yang harus saya syukuri.

Tak apalah berebut kereta setiap pagi dan sore.
Tak apalah hanya 1 hari dalam seminggu saya bisa tidur nyenyak.
Tak apalah kaki keras banget kaya batang pisang.
Saya akan bertahan sejauh saya mampu.

Demi.


~ydp
di suatu siang yang ngantuk



Kamis, 05 Oktober 2017

..pil pahit.

..aku lupa.
ini malam jum'at ke berapa.
padahal kita baru 6 thn menikah.

yang gak aku lupa bahwa
menikah itu ada part di mana kita hanya bisa
menelan pil pahit mentah-mentah.

mungkin sambil memejam matanya.
mungkin sambil dipencet hidungnya.
atau juga sambil muntah-muntah.

tapi ya harus ditelan saja.

pahit.

~ylz
malam jum'at ke sekian tanpamu.

_________

Rabu, 30 Agustus 2017

Jakarta, again!

30 Agt 2017.

It's been a week that I hit Jakarta again.

Exciting,fear, doubt my self,tiring and all that mix feeling.

Alhamdulillah ya Allah..
You give me another chance..another way, answer to all my pray.
After all rejections,
the uncomforting,
the ugliest moment in life that i have to loss 4million bcoz of my stupidity.

I can't ask another for more.
This is more than enough.

Although I have to face that difficulties again, i will push my self through the limit.

I know I can..again.

~sleepy afternoon
at new office.